Indonesia Flag Orb Seni Ukir Jepara ~ Indahnya Negeriku,INDONESIA

Selasa, 01 Januari 2013

Seni Ukir Jepara



Bagi sebagian besar pecinta seni dan keindahan, keunikan Seni ukir Jepara dapat menjadi salah satu referensi. “Seni ukir Jepara” dapat dibilang yang terbaik di Indonesia dan menjadi salah satu komoditi ekspor utama Indonesia khususnya kota Ukir itu sendiri, “Jepara”.
Ornamen – ornamen ukiran Jepara yang diterapkan sebagai ciri khas pada mebel Jepara memberikan nilai tambah sehingga mebel Indonesia dapat bersaing di pasar internasional. Bahkan, ciri khas ukiran gaya Jepara yang terdapat di setiap “mebel dari Jepara” lebih unggul dari kualitas seni dengan yang dibuat oleh negara-negara lain seperti Vietnam.
Saat ini, hampir 80 persen masyarakat Jepara masih melanjutkan aktivitas kegiatan mengukir kayu yang diyakini sudah ada sejak masa Majapahit (Kerajaan Hindu terbesar di Indonesia) pada abad ke-13. Model ukiran Jepara terus berkembang dan mengalami perpaduan baik dalam desain, fungsi, dan estetika sesuai dengan perkembangan Jaman.
Untuk menghasilkan produk furniture dan kerajinan ukiran terbaik, perajin Jepara biasanya menggunakan kayu Jati sebagai bahan baku utama.
Didalam daftar komoditi ekspor Indonesia saat ini, produk ukiran Jepara masih ada karena keunikannya. Tidak ada kesamaan antara produk ukiran Jepara, karena ukiran Jepara adalah seni buatan tangan yang tidak dilakukan dengan mesin modern. Ciri khas keunikan yang terdapat pada produk ukiran Jepara membuat Kabupaten Jepara banyak dikenal di pasar mebel dunia.
Bisa dikatakan kota kelahiran R.A Kartini ini memiliki nilai lebih dibandingkan dengan kota lain. ya Jepara sejak dulu pada sudah dikenal memiliki keunggulan disektor ukiran terutama produk kaligrafi jepara sangat populer di negara timur tengah. kaligrafi jepara dinilai memiliki nilai lebih karena diukir dengan media kayu dan digabungkan dengan seni ukir jepara. tidak heran jika kaligrafi jepara sangat digemari dan selalu kebanjiran order. terutama kaligrafi amirul group yang selalu beda dengan yang lain jika yang lain modelnya itu-itu saja berbeda 180 derajat dengan kaligrafi amirul group yang selalu menghadirkan varian baru, itu dikarena kaligrafi amirul group selalu menggambar design sendiri sesuai dengan permintaan buyer jika yang laain masih mengandalkan mal atau cetakan gambar kami hadir berbeda.  kaligrafi amirul group juga menerima jasa design kaligrafi dengan berbagai ukuran buyer, dari yang biasa sampai yang rumit. kaligrafi amirul group pernah membuat kaligrafi dengan ukuran 1 meter x 100 meter bisa dikerjakan dalam waktu 2 minggu saja karena kami sudah fasih dalam menggambar atau mendesign kaligrafi. jika anda ingin mendesignkan kaligrafi baru kami menerima dan jika anda ingin mendesign sekaligus mengukirkan kaligrafi kami juga sangat senang hati menerima. untuk masalah harga kaligrafi amirul group bisa bersaing walaupun kualitasnya terbilang eksport namun tetap ringan dikantong. untuk jaminan mutu bisa disandingkan dengan kaligrafi sejenis yang banyak dipasaran pasti berbeda dengan yang lain.
Seni ukir merupakan salah satu tradisi utama masyarakat Jepara yang sejak dulu sampai sekarang masih mempertahankan ciri khas utamanya. Salah satunya adalah pada warna ukiran Jepara lebih banyak menggunakan warna alami (warna kayu).
Tradisi yang mempertahankan keaslian warna kayu ini tak lepas dari daerah Jepara yang tidak terikat oleh wilayah keraton sebagai pusat pengendali karena jaraknya yang relatif jauh, sehingga simbolisasi warna dalam kejawen tidak begitu nampak pada gaya ukiran Jepara.
Beberapa contoh gaya ukiran Jepara yang masih menggunakan gaya alami terdapat pada ukiran Pintu Bledek dan juga ukiran pada tiang pendopo Masjid Demak. Motif ukiran yang digunakan pada umumnya memiliki ciri naturalis yang distilisasikan seperti yang terdapat pada gaya ukiran Jepara.
Namun dalam perkembangan masa kini, warna ukiran lebih banyak dimanfaatkan sebagai unsur dekoratifnya. Selain menghadirkan kesan warna barang yang sudah berumur lama, seperti warna biru hijau, merah, kuning emas, atau warna gelap agak kusam.
Satu citra yang telah begitu melekat dengan Jepara adalah predikatnya sebagai “Kota Ukir”. Ukir kayu telah menjadi idiom kota kelahiran Raden Ajeng Kartini ini, dan bahkan belum ada kota lain yang layak disebut sepadan dengan Jepara untuk industri kerajinan meubel ukir. Namun untuk sampia pada kondisi seperti ini, Jepara telah menapak perjalana yang sangat panjang. Sejak jaman kejayaan Negara-negara Hindu di Jawa Tengah, Jepara Telah dikenal sebagai pelabuhan utara pantai Jawa yang juga berfungsi pintu gerbang komunikasi antara kerajaan Jawa denga Cina dan India .
Demikian juga pada saat kerajan Islam pertama di Demak, Jepara telah dijadikan sebagai pelabuhan Utara disamping sebagai pusat perdagangan dan pangkalan armada perang. Dalam masa penyebaran agama Islam oleh para Wali, Jepara juga dijadikan daerah “ pengabdian” Sunan Kalijaga yang mengembangkan berbagai macam seni termasuk seni ukir.
Factor lain yang melatar belakangi perkembangan ukir kayu di Jepara adalah para pendatang dari negeri Cina yang kemudian menetap. Dalam catatan sejarah perkembangan ukir kayu juga tak dapat dilepaskan dari peranan Ratu Kalinyamat . Pada masa pemerintahannya ia memiliki seorang patih yang bernama “Sungging Badarduwung” yang berasal dari Negeri Campa Patih ini ternyata seorang ahli pahat yang dengan sukarela mengajarkan keterampilannya kepada masyarakat disekitarnya Satu bukti yang masih dapat dilihat dari seni ukir masa pemerintahan Ratu Kalinyamat ini adalah adanya ornament ukir batu di Masjid Mantingan.
Disamping itu , peranan Raden Ajeng Kartini dalam pengembangkan seni ukir juga sangat besar. Raden Ajeng Kartini yang melihat kehidupan para pengrajin tak juga beranjak dari kemiskinan, batinnya terusik, sehingga ia bertekat mengangkat derajat para pengrajin. Ia memanggil beberapa pengrajin dari Belakang Gunung (kini salah satu padukuhan Desa mulyoharjo) di bawah pimpinan Singowiryo, untuk bersama-sama membuat ukiran di belakang Kabupaten. Oleh Raden Ajeng Kartini, mereka diminta untuk membuat berbagai macam jenis ukiran, seperti peti jahitan, meja keci, pigura, tempat rokok, tempat perhiasan, dan lain-lain barang souvenir. Barang-barang ini kemudian di jual Raden Ajeng Kartini ke Semarang dan Batavia (sekarang Jakarta ), sehingga akhirnya diketahui bahwa masyarakat Jepara pandai mengukir.
Setelah banyak pesanan yang datang, hasil produksi para pengrajin Jepara bertambah jenis kursi pengantin, alat panahan angin, tempat tidur pengantin dan penyekat ruangan serta berbagai jenis kursi tamu dan kursi makan. Raden Ajeng Kartini juga mulai memperkenalkan seni ukir Jepara keluar negeri. Caranya, Raden Ajeng kartini memberikan souvenir kepada sahabatnya di luar negeri. Akibatnya ukir terus berkembang dan pesanan terus berdatangan. Seluruh penjualan barang, setelah dikurangi dengan biaya produksi dan ongkos kirim, uangnya diserahkan secara utuh kepada para pengrajin.
Untuk menunjang perkembangan ukir Jepara yang telah dirintis oleh Raden Ajeng Kartini, pada tahun 1929 timbul gagasan dari beberapa orang pribumi untuk mendirikan sekolah kejuruan. Tepat pada tanggal 1 Juli 1929, sekolah pertukangan dengan jurusan meubel dan ukir dibuka dengan nama “Openbare Ambachtsschool” yang kemudian berkembang menjadi Sekolah Teknik Negeri dan Kemudian menjadi Sekolah Menengah Industri Kerajinan Negeri.
Dengan adanya sekolah kejuruan ini, kerajinan meubul dan ukiran semaluas di masyarakat dan makin banyak pula anak–anak yang masuk sekolah ini agar mendapatkan kecakapan di bidang meubel dan meubel dan ukir. Di dalam sekolah ini agar diajarkan berbagai macam desain motif ukir serta ragam hias Indonesia yang pada mulanya belum diketahui oleh masyarakat Jepara . Tokoh-tokoh yang berjasa di dalam pengembangan motif lewat lembaga pendidikan ini adalah Raden Ngabehi Projo Sukemi yang mengembangkan motif majapahit dan Pajajaran serta Raden Ngabehi Wignjopangukir mengembangkan motif Pajajaran dan Bali.
Semakin bertambahnya motif ukir yang dikuasai oleh para pengrajin Jepara , meubel dan ukiran Jepara semakin diminati. Para pedagang pun mulai memanfaatkan kesempatan ini, untuk mendapatkan barang-barang baru guna memenuhi permintaan konsumen, baik yang berada di dalam di luar negeri.Kemampuan masyarakat Jepara di bidang ukir kayu juga diwarnai dengan legenda . Dikisahkan, pada jaman dahulu ada seorang seniman bernama Ki Sungging Adi Luwih yang tinggal di suatu kerajaan. Ketenaran seniman ini didengar oleh sang raja yang kemudian memesan gambar permaisuri. Singkat cerita, KiSungging berhasil menyelesaikan pesanan dengan baik. Namun ketika ia akan menambahkan warna hitam pada rambut, terpeciklah tinta hitam dibagian pangkal paha gambar sang permaisuri sehingga nampak seperti tahi lalat. Gambar ini kemudian diserahkan kepada raja yang sangat kagum terhadap hasil karya Ki Sungging.
Namun raja juga curiga karena ia melihat ada tahi lalat dipangkal paha. Raja menduga Ki Sungging talah melihat permaisuri telanjang. Oleh karena itu raja berniat menghukum Ki Sungging dengan membuat patung di udara dengan naik layang-layang. Pada waktu yang telah ditentukan ki Sungging naik layang-layang dengan membawa pelengkapan pahat untuk membuat patung permaisuri.
Namun karena angina bertiup sangat kencang, patung setengah jadi itu akhirnya terbawa angin dan jatuh di pulau Bali. Benda ini akhirnya ditemukan oleh masyarakat Bali, sehingga masyarakat setempat sekarang dikenal sebagai ahli membuat patung. Sedangkan peralatan memahat jatuh di belakang gunung dan konon dari kawasan inilah ukir Jepara mulai berkembang.
Terlepas dari cerita legenda maupun sejarahnya, seni ukir Jepara kini telah dapat berkembang dan bahkan merupakan salah satu bagian dari “nafas kehidupan dan denyut nadi perekonomian “ masyarakat Jepara.
Setelah mengalami perubahan dari kerajinan tangan menjadi industri kerajinan, terutama bila dipandang dari segi sosial ekonomi, ukiran kayu Jepara terus melaju pesat, sehingga Jepara mendapatkan predikat sebagai kota ukir, setelah berhasil menguasai pasar nasional. Namun karena perkembangan dinamika ekonomi, pasar nasional saja belum merupakan jaminan, karena di luar itu pangsa pasar masih terbuka lebar. Oleh karena itu diperlukan kiat khusus untuk dapat menerobos pasar internasional.
Untuk melakukan ekspansi pasar ini buka saja dilakukan melalui pameran-pameran, tetapi juga dilakukan penataan-penataan di daerah. Langkah-langkah ini ditempuh dengan upaya meningkatkan kualitas muebel ukir Jepara, menejemen produksi dan menejemen pemasaran. Di samping itu dikembangkan “Semangat Jepara Incoporated “, bersatunya pengusaha Jepara dalam memasuki pasar ekspor, yang menuntut persiapan matang karena persaingan-persaingan yang begitu ketat .
Guna meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia misalnya, dilakukan melalui pendidikan Sekolah Menengah Industri Kerajinan Negeri dan Akademi Teknologi Perkayuan dan pendidikan non formal melalui kursus-kursus dan latihan-latihan. Dengan penigkatan kualitas sumber daya manusia ini diharapkan bukan saja dapat memacu kualitas produk, tatapi juga memacu kemampuan para pengrajin dan pengusaha Jepara dalam pembaca peluang pasar dengan segala tentutannya.
Peningkatan kualitas produk dan pengawasan mutu memang menjadi obsesi Jepara dalam memasuki pasar internasional, yang bertujuan untuk meningkatkan kepercayaan luar negri terhadap produk industri Jepara. Karena itu pengendalian mutu dengan mengacu pada sistim standard internasional merupakan hal yang tidak dapat di tawar-tawar lagi. Usaha ini dilakukan melalui pembinaan terhadap produsen agar mempertahankan mutu produknya dalam rangka menjamin mutu pelayanan sebagai mana dipersaratkan ISO 9000.
Di samping itu, perluasan dan intensifikasi pasar terus dilakukan dalam rangka meningkatkan ekspor serta peluasan pasar internasional dengan penganeragaman produk yang mempunyai potensi, serta peningkatan market intelligence untuk memperoleh transportasi pasar luar negeri. Dengan demikian para pengusaha dapat dengan tepat dan cepat mengantisipasi peluang serta tantangan yang ada dipasar internasional. Sementara itu jaringan informasi terus dilakukan melalu pengevektivan fungsi dan kegiatan Buyer Reception Desk yang ada di Jepara. Langkah-langkah konseptual yang dilakukan secara terus menerus ini telah berbuah keberhasilan yang dampaknya dirasakan oleh masyarakat Jepara, berupa peningkatan kesejateraannya. Dari data yang ada dapat dijadikan cermin keberhasilan sektor meubel ukir dalam lima tahun terakhir.
Data diatas belum termasuk potensi kayu olahan , souvenir dan peti mati yang dalam tiga tahun terakhir telah berhasil dilealisir ekspornya. Untuk dapat melihat lebih jauh potensi ukir kayu ini juga dapat dilihat berbagai macam penghargaan, yang bersekala regional, nasional dan internasional, baik bagi para pengusaha, pengrajin maupun bagi pimpinan daerah.


0 komentar:

Posting Komentar